Success Story‎ > ‎Vietnam‎ > ‎

Sukses Stori PDAM Phnom Penh

Tanggal 17 Januari 2011 pesawat GA 304 yang menuju Surabaya dari Jakarta sudah siap boarding jam jam 06an dan jam 06.40 sudah siap take off tapi apa yang terjadi, antrian pesawat begitu panjangnya yang mau take off (dalam hati penulis membatin coba bandara Soetta seperti La Guardia New York dimana landasan pacunya banyak sehingga kita yang mau take off masih bisa melihat pesawat2 yang lagi landing dan take off, dan perlu diingat sekarang kapasitas bandara Soetta 2011 sudah menampung 44 juta orang yang lima tahun kedepan akan menjadi 65 juta orang jadi sudah saatnya memikirkan perkembangan kedepan jua termasuk moda transportasi ke bandaranya lho).

 

Sambil menunggu antrian pesawat yang mau take off penulis yang duduk dibangku emergency 14A membaca buku “Transforming the World of Water” yang salah satu artikel yang menarik adalah “Transforming the Phnom Penh water utility” yang ringkasanya akan saya sharing ke anda semua, dan tak terasa selesai baca selama 1 jam tepat jam 07.40 pesawat baru bisa take off menuju Surabaya.

 

Sejarah keberhasilan PDAM Phnom Penh (PP) tidak lepas dari  pribadi pak Ek Sonn Chan sebagai Dirut PDAMnya yang karena keberhasilan  tersebut beliau mendapat penghargaan dari ADB (2004) dan Nobel Prize  Asia (2006).

 

Phnom Penh dengan penduduk sekitar 1,5 juta jiwa (tewas 3 jutaan jiwa pada jaman rejim Khmer Merah  1975-1979) dan karena kecantikan kotanya dulu dikenal sebagai “little Paris”.

 

Kondisi pelayanan Air Minum pada tahun 1993 sangat memprihatinkan dimana; cakupan pelayanan hanya 20%, jam pelayanan hanya 8-10 jam/hari, angka kehilangan air 72 %,  presentase penagihan hanya 50%.

 

Mulai tahun 1993 PDAM PP mendapat pinjaman lunak sebesar $60 mio dari jumlah keseluruhan bantuan $ 150 mio.

 

Salah satu prioritas untuk membantu mensejahterakan pegawai adalah mulai membangun perumahan karyawan sebanyak 6-10 rumah/tahun disebabkan kesulitan para karyawan untuk menyewa rumah walaupun cuma $ 30/bulan.

 

Diawal tahun 93 diterima bantuan komputer2 bekas dari UNDP, melihat bantuan komputer bekas ini pertama kali protes kok yang diberikan komputer2 bekas, lalu dijawab oleh pejabat UNDP; “lha wong pegawai anda untuk menghidupkan dan mematikan komputer aja nggak bisa kok mau komputer baru?” akhirnya sadarlah dia bagaimana kondisi SDM yang ada.

 

Hal selanjutnya yang dilakukan oleh pak Son adalah  belajar DMA (Distric Metering Area) di Kuala Lumpur, sesampai di Phnom Penh mulai dia menerapkan DMA secara serius dengan membuat kontrak antara direksi dan karyawan dalam rangka pelaksanaan program penurunan kebocoran (NRW) jadi seluruh pihak diajak bertanggung jawab disini.

 

Masalah tariff air minum juga menjadi perhatiannya walaupun dari mulai tahun 2001 PDAM PP tidak pernah menaikkan tariff walaupun listrik sudah naik 300% demikian juga bahan kimia naik 300& juga.

 

Pelayanan terhadap penduduk miskinpun menjadi perhatian dia, sudah selama 10 tahun ini jumlah pelanggan miskin yang 2.000 SR tetap eksis.

 

Jumlah air yang diproduksipun meningkat dari haya 19 juta m3/tahun menjadi 110 juta m3/tahun dengan kenaikan 6 x kapasitas produksinya. Dalam tempo 16 tahun cakupan pelayanan sudah mencapai 90% dengan peningkatan jumlah pelanggan dari 26.881 SR ditahun 1993 menjadi 200.000 SR.

 

Walaupun Kamboja identik dengan negara miskin tapi kesadaran penduduk untuk membayar air tinggi hampir seluruh pelanggan membayar tepat waktu dengan perhitungan sekitar 3% dari total pendapatan mereka.

 

Salah satu hal yang menarik lainnya adalah bagaimana PDAM PP berhasil menurunkan NRWnya dari 72% ditahun 1993 menjadi 5,94% ditahun 2009, bahkan mereka punya obsesi untuk menyaingi NRWnya Singapura, bukan main.

 

Keuntungan PDAM PP tiap tahun berkisar $ 8 juta dan naik 50% tiap tahun  dengan tariff sebesar $ 0,25/m3 (sekitar Rp 2.400/m3) dibanding Bangkok $ 0.39,  Ho Chi Minh City $ 0.26 dan Singapura $ 0.90, suatu hal yang patut jadi catatan adalah besarnya biaya tenaga listrik  sekitar 48% sendiri dari total biaya O/M.

 

Berbicara kualitas air minum yang dihasilkan adalah “benar2 air minum” yang dapat langsung diminum, walaupun orang asing masih ragu untuk meminumnya langsung.

 

Ratio jumlah karyawan per 1.000 SR turun drastis dari 20 pada tahun 1993 menjadi 3,2 di 2009, kapasitas produksi naik dari 65.000 m3/hari menjadi 300.000 m3/hari, tekanan airnya juga meningkat dari 0,2 bar pada 1993 menjadi 2,5 bar di 2009.

 

Ada 3 hal yang patut menjadi pertimbangan untuk memajukan PDAM adalah: pertama “political will” harus dipahami bersama baik dari manajemen PDAM maupun Pemda sebagai pemiliknya, tanpa independensi manajemen dan kebebasan menentukan tariff apa yang sudah dicapai oleh PDAM PP adalah suatu hal yang muskil untuk terjadi, dan jangan lupa faktor internalpun akan menjadi kunci faktor kesuksesannya.

 

Pak Son menyadari bahwa Cambodia adalah negara dengan rangking  korupsi  no 158 didunia  tapi PDAM PP walaupun belum 100% bebas korupsi tapi akan terus berusaha untuk menuju kearah sana.

 

Falsafah Cina kiranya  tentang LOTUS (bunga Teratai) kiranya patut untuk dicontoh walaupun dia tumbuh dilumpur yang kotor tapi tetap akan tumbuh subur dan  menghasilkan bunga yang cantik (bp).


Sumber : Milis AMPL


Comments