Home‎ > ‎Liputan Media Massa‎ > ‎Jawa Tengah‎ > ‎Kabupated Kudus‎ > ‎

Mata Air Muria Terus Dieksploitasi

Kompas - 07 April 2011

KUDUS, KOMPAS - Eksploitasi sumber air dari Pegunungan Muria di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, untuk tujuan komersial terus berlangsung. Setiap hari sekurangnya 500.000 liter air dari Muria disedot, untuk selanjutnya dijual sebagai air minum langsung atau bahan baku air minum isi ulang.

Eksploitasi yang terus berlangsung sejak tahun 1995 itu menyebabkan debit sejumlah mata air permukaan turun.

Camat Dawe Didik Sugiharto, Rabu (6/4), mengatakan, setiap hari rata-rata 20 truk tangki air kapasitas 5.000 liter beroperasi di Kecamatan Dawe. Kalau setiap truk rata-rata mengambil air lima kali, berarti air yang diambil dari mata air 500.000 liter per hari.

”Selama ini pemerintah tidak mendapatkan retribusi dari pengambilan air. Jadi, legal atau tidaknya pengambilan air itu bisa ditafsirkan sendiri,” katanya.

Untuk itu, pihaknya akan berkoordinasi dengan instansi terkait pengelolaan air permukaan di kawasan hutan. Antara lain soal penataan kembali pengambilan air, penghitungan debit air, dan penentuan legal atau tidaknya perusahaan-perusahaan pengambil air itu.

Pemantauan Kompas di jalan utama Kudus-Colo atau arah Pegunungan Muria, dalam satu jam setidaknya melintas tiga truk tangki. Truk-truk itu bernomor polisi Kudus, Pati, dan Jepara.

Kepala Desa Colo DF Khoirul Falah mengatakan, di Desa Colo pengambilan air terjadi di lima mata air yang berada di kawasan Jurangkulon, Kalimati, dan Guan. Mata air di kawasan itu sudah mulai berkurang debitnya, dari 7,5 liter per detik menjadi 5 liter per detik. Selain pengambilan air, penyebab utamanya adalah rusaknya lingkungan Pegunungan Muria.

”Agar air tidak cepat berkurang, pemerintah desa membatasi pengambilan air oleh truk-truk tangki, maksimal tujuh kali per hari,” kata Khoirul.

Selain dibatasi pengambilannya, pemilik tangki juga harus menggandeng masyarakat, turut mengembangkan instalasi air bersih, dan mengonservasi lahan kritis Pegunungan Muria.

Terpisah, Bupati Kudus meminta masyarakat mendukung gerakan penghijauan dan penyelamatan air, bukan malah merusak lingkungan. Salah satunya adalah menanami lahan kritis di kawasan pegunungan. (HEN)


Comments