Home‎ > ‎Liputan Media Massa‎ > ‎

Jangan Buang Air Mandi-Cuci

Kompas - 12 Januari 2011

Akses air bersih kerap menjadi masalah. Sebagian masyarakat di permukiman padat kebanyakan belum mendapatkan akses air bersih. Air mandi dan air minum diperoleh dengan harus membeli air per jeriken. Di sisi lain, jika kurang bijak dalam menggunakan air, akan menghasilkan kesia-siaan.

Mencoba mengatasi masalah ketersediaan air bersih itu, tim peneliti Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya yang terdiri atas Prof Joni Hermana, Susi Wilujeng, dan asisten Ervin Nurhayati membuat reaktor pengolah air limbah domestik sederhana. Air sisa mandi dan cuci—bukan dari kakus—diolah sehingga jernih kembali dan layak digunakan. Air hujan juga bisa ditampung, diolah, dan digunakan kembali.

Tim dari Jurusan Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) ITS ini menyebut reaktor sebagai Pandora-L. Prinsipnya, menurut Joni, yang memimpin tim peneliti, membersihkan limbah domestik sisa mandi dan cuci (grey water) dari pencemarnya dengan berbagai proses yang bisa dilakukan.

Pada limbah domestik, sisa mandi dan cuci terdapat beberapa kelompok pengotor. Pertama, lemak dan minyak serta detergen yang sifatnya mengapung. Kedua, zat padat yang bisa mengendap, seperti pasir dan partikel-partikel cemaran lain yang tersuspensi. Terakhir, bahan organik terlarut (biological oxygen demand/BOD) dan bahan anorganik, seperti mineral dan logam.

Pembersihan limbah


Pembersihan limbah domestik ini dimulai dari proses termudah. Zat padat diendapkan dalam bak penampung sementara. Zat-zat pencemar yang mengapung, seperti minyak, lemak, dan detergen, disaring dengan berbagai material penahan. Di bagian ini, digunakan lapisan penyaring sabut kelapa, ijuk, pecahan keramik, dan kerikil. Selain membantu pembersihan air, kerikil menyangga semua material penyaring supaya tidak amblas.

Zat-zat organik terlarut dibersihkan dengan proses biologis. Karena itu, digunakan bakteri anaerob yang bertugas mengurai pencemar organik.

Menurut Joni, yang menjabat sebagai Dekan FTSP ITS, bakteri anaerob yang digunakan sama dengan bakteri pengurai kotoran manusia. Tim ini juga mengambil bakteri dari instalasi pengolah limbah tinja di Surabaya, Jawa Timur.

Pada proses ini, diperlukan waktu reaksi. Karena itu, reaktor di bagian ini dibuat bersekat-sekat dengan pelat-pelat. Sekat (buffle) ini berfungsi meratakan aliran air limbah yang mulai jernih dan mempermudah kontak antara bakteri dan makanannya, bahan organik pencemar itu. Jumlah sekat yang digunakan pun disesuaikan dengan jumlah limbah yang diolah.

Untuk menghilangkan pencemar anorganik, seperti mineral dan logam, digunakan saringan berupa pasir, karbon aktif, dan zeolit (depth filter). Terakhir, untuk memastikan semua partikel terpisah dengan baik, air disaring dengan pecahan gerabah.

Karena memanfaatkan bakteri sebagai pengurai dalam salah satu prosesnya, masyarakat harus menjaga limbah domestik yang diolah ini tidak terkena desinfektan.

Pembersihan kamar mandi dengan desinfektan, misalnya, dilakukan setelah menutup saluran menuju reaktor pengolah air limbah ini, Pandora-L.

Tidak muluk-muluk

Penelitian yang dilakukan bekerja sama dengan Balai Teknologi Permukiman Dinas Permukiman Jatim ini mulai digunakan masyarakat sejak Oktober 2006. Harapannya, masyarakat yang nyaris tidak mendapat layanan sanitasi bisa memperoleh akses untuk air bersih.

Teknologi ini, kata Joni, memanfaatkan proses yang ada di alam. Teknologinya tidak muluk-muluk dan diupayakan tidak berbiaya tinggi.

Reaktor percobaan pertama yang ditempatkan di permukiman padat di Jalan Kejawan Gebang II, Surabaya, dimanfaatkan sekitar sepuluh warga. Warga kini menggunakan air olahan ini untuk masak dan mandi, tidak lagi harus membeli air atau mengangkut dari masjid yang berjarak sekitar 50 meter dari permukiman. Sementara pembersihan kamar mandi dengan desinfektan dilakukan bersama-sama pada hari yang disepakati.

Kini, reaktor pengolah air limbah ini sudah dibangun pula di permukiman warga sekitar sempadan Sungai Surabaya di Jalan Gunungsari II serta di permukiman dosen dan mahasiswa ITS.

Biaya pembangunan instalasi pengolah air limbah ini berkisar Rp 20 juta. Jumlah ini bisa ditanggung bersama misalnya sepuluh keluarga atau ditangani pemerintah. Namun, manfaatnya berlangsung lama. Bahkan, menurut Susi, yang juga pengajar Teknik Lingkungan ITS, warga perumahan bisa saja memanfaatkan reaktor ini untuk air penyiram toilet atau penyiram taman. NINA SUSILO


Comments